Menyimak Riwayat Kepatuhan Perempuan
KISAH tentang kesetiaan dan kepatuhan seorang perempuan baik sebagai
istri maupun sahabat akan tersaji dalam repertoar Gandamayu yang akan
dipentaskan Teater Garasi. Kisah mitologis yang dibalut dalam kehidupan
masa kini tersebut akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ)
pada 4–5 September 2012 mendatang.
Repertoar Gandamayu merupakan naskah adaptasi dari novel Gandamayu karya Putu Fajar Arcana. Menurut sutradara repertoar Gandamayu, Yudi Ahmad Tajudin, pementasan ini akan banyak bertutur pada tiga kekuatan dalam buku ini,yakni kutukan,ruwatan, dan penantian. “Tiga bagian itu akan jadi kekuatan dalam pentas kali ini,” tegas Yudi Ahmad Tajudin dalam jumpa pers di Jakarta pekan lalu.
Yudi menambahkan, dari sisi cerita, akan ada jembatan antara kayangan (dunia mitologis) dengan dunia saat ini berada. Konsep pementasan ini pun akan digarap demikian dengan menempatkan beberapa elemen artistik yang bisa meleburkan dua dunia yang berbeda tersebut. Repertoar Gandamayu ini ditulis ulang dari novel aslinya oleh Gunawan Maryanto. Sudah menjadi pakem dari Teater Garasi jika mengadaptasi sebuah novel selalu ditafsir ulang sesuai dengan ciri mereka.
“Biasanya seorang penulis tidak langsung menerima begitu saja karyanya ditafsir ulang.Namun, secara kebetulan Putu Fajar Arcana langsung menerima naskah repertoar Gandamayu yang ditafsir ulang oleh Gunawan,”terang Yudi. Kisah repertoar Gandamayu ini kelak akan disajikan dalam satu sudut pandang berbingkai. Akan ada kisah seorang ayah yang bersama-sama anaknya pergi menghadiri mabebasan (menembang) bersama anaknya.
Dalam perjalanan menuju undangan mabebesan ini,si ayah bertutur dalam tembang- tembang tentang pandangan hidup. Dan di sepanjang jalan itu, tembang yang didendangkan berkisah tentang Sudamala. Dari situlah kemudian kisah akan mengalir seperti air. Tembang Sudamala dari si ayah kepada anaknya yang hidup di bumi akan membawa kisah pada kepatuhan Dewi Uma kepada suaminya Dewa Shiwa.
Dikisahkan Dewa Shiwa tengah menguji kesetiaan Dewi Uma dengan berpura-pura sakit. Sakit yang dialami Shiwa hanya bisa disembuhkan dengan susu sapi putih yang tengah menyusui. Karena kepatuhan dan kesetiaan Dewi Uma kepada suaminya ini,Uma lantas turun ke bumi untuk mencari susu yang diperah dari sapi putih yang tengah menyusui. Secara kebetulan, sebenarnya Uma juga “bosan” hidup di kayangan yang penuh dengan aturanaturan.
Kesempatan ini dipakai Uma untuk melihat kehidupan di bumi. Dari sinilah kesetiaan Uma diuji. Shiwa dengan kesaktian yang tiada bandingannya juga turun ke bumi menyaru sebagai penggembala sapi putih. Uma lantas dipertemukan dengan Shiwa yang menyaru sebagai penggembala. Tatkala Uma hendak meminta susu,penggembala pun meminta syarat yang membuat Uma kemudian dikutuk menjadi Durga.
“ Dalambagian ini,kutukan menjadi bagian pertama lalu ada bagian di mana Durga harus diruwat dan saatsaat penantian,”terang Yudi Sementara itu Putu Fajar Arcana menyambut baik pementasan yang akan dilakukan Teater Garasi.Pentas yang akan digelar dalam festival Schouwburg X ini akan menjadi sesuatu yang spesial bagi dirinya. Lelaki yang dikenal dengan sebutan Bli Can itu menuturkan, sejak awal novel ini diterbitkan, dirinya memang berkeinginan untuk mementaskan Gandamayu ini ke panggung pertunjukan.
Teater Garasi ia pilih karena selama ini kelompok teater asal Yogyakarta tersebut memiliki jam terbang tinggi dalam percaturan teater di Tanah Air. Pun karya yang mereka produksi memiliki kualitas yang sangat baik di antara sederet kelompok teater lain.
Repertoar Gandamayu merupakan naskah adaptasi dari novel Gandamayu karya Putu Fajar Arcana. Menurut sutradara repertoar Gandamayu, Yudi Ahmad Tajudin, pementasan ini akan banyak bertutur pada tiga kekuatan dalam buku ini,yakni kutukan,ruwatan, dan penantian. “Tiga bagian itu akan jadi kekuatan dalam pentas kali ini,” tegas Yudi Ahmad Tajudin dalam jumpa pers di Jakarta pekan lalu.
Yudi menambahkan, dari sisi cerita, akan ada jembatan antara kayangan (dunia mitologis) dengan dunia saat ini berada. Konsep pementasan ini pun akan digarap demikian dengan menempatkan beberapa elemen artistik yang bisa meleburkan dua dunia yang berbeda tersebut. Repertoar Gandamayu ini ditulis ulang dari novel aslinya oleh Gunawan Maryanto. Sudah menjadi pakem dari Teater Garasi jika mengadaptasi sebuah novel selalu ditafsir ulang sesuai dengan ciri mereka.
“Biasanya seorang penulis tidak langsung menerima begitu saja karyanya ditafsir ulang.Namun, secara kebetulan Putu Fajar Arcana langsung menerima naskah repertoar Gandamayu yang ditafsir ulang oleh Gunawan,”terang Yudi. Kisah repertoar Gandamayu ini kelak akan disajikan dalam satu sudut pandang berbingkai. Akan ada kisah seorang ayah yang bersama-sama anaknya pergi menghadiri mabebasan (menembang) bersama anaknya.
Dalam perjalanan menuju undangan mabebesan ini,si ayah bertutur dalam tembang- tembang tentang pandangan hidup. Dan di sepanjang jalan itu, tembang yang didendangkan berkisah tentang Sudamala. Dari situlah kemudian kisah akan mengalir seperti air. Tembang Sudamala dari si ayah kepada anaknya yang hidup di bumi akan membawa kisah pada kepatuhan Dewi Uma kepada suaminya Dewa Shiwa.
Dikisahkan Dewa Shiwa tengah menguji kesetiaan Dewi Uma dengan berpura-pura sakit. Sakit yang dialami Shiwa hanya bisa disembuhkan dengan susu sapi putih yang tengah menyusui. Karena kepatuhan dan kesetiaan Dewi Uma kepada suaminya ini,Uma lantas turun ke bumi untuk mencari susu yang diperah dari sapi putih yang tengah menyusui. Secara kebetulan, sebenarnya Uma juga “bosan” hidup di kayangan yang penuh dengan aturanaturan.
Kesempatan ini dipakai Uma untuk melihat kehidupan di bumi. Dari sinilah kesetiaan Uma diuji. Shiwa dengan kesaktian yang tiada bandingannya juga turun ke bumi menyaru sebagai penggembala sapi putih. Uma lantas dipertemukan dengan Shiwa yang menyaru sebagai penggembala. Tatkala Uma hendak meminta susu,penggembala pun meminta syarat yang membuat Uma kemudian dikutuk menjadi Durga.
“ Dalambagian ini,kutukan menjadi bagian pertama lalu ada bagian di mana Durga harus diruwat dan saatsaat penantian,”terang Yudi Sementara itu Putu Fajar Arcana menyambut baik pementasan yang akan dilakukan Teater Garasi.Pentas yang akan digelar dalam festival Schouwburg X ini akan menjadi sesuatu yang spesial bagi dirinya. Lelaki yang dikenal dengan sebutan Bli Can itu menuturkan, sejak awal novel ini diterbitkan, dirinya memang berkeinginan untuk mementaskan Gandamayu ini ke panggung pertunjukan.
Teater Garasi ia pilih karena selama ini kelompok teater asal Yogyakarta tersebut memiliki jam terbang tinggi dalam percaturan teater di Tanah Air. Pun karya yang mereka produksi memiliki kualitas yang sangat baik di antara sederet kelompok teater lain.
Sumber:seputar-indonesia.com

Post a Comment