Header Ads

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

Peneliti identifikasi spesies katak

(A) dan ventral (B) katak jenis Hylarana rawa
Peneliti penerima penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI, Prof. Soekarja Somadikarta mengatakan peneliti tetap harus memperhatikan kelestarian keanekaragaman hayati meskipun memiliki kewajiban untuk menyerahkan spesimen kepada museum sebagai koleksi.

"Ambil spesimen untuk koleksi yang diperlukan saja. Jangan berlebihan apalagi terhadap binatang yang hampir punah," kata Prof. Soma -- panggilan akrab Prof. Soekarja Somadikarta, di Jakarta, Rabu.

Prof Soma mengatakan terkadang pengambilan spesimen memang sebuah pilihan yang sulit bagi peneliti. Di satu sisi, mereka memerlukan bukti atas penelitian mereka, di sisi lain mereka tetap harus berusaha melestarikan satwa.

Menurut mantan direktur Museum Zoologicum Bogoriense itu, penelitian yang hanya berupa observasi tanpa ada bukti spesimen terkadang tidak dipercaya. Karena itu, peneliti harus bijak dalam mengambil spesimen.

"Peneliti sering dihadapkan pada pilihan antara koleksi spesimen atau pelestarian hayati. Untuk satwa yang hampir punah, tentu tidak bisa sembarangan," kata pakar ornitologi atau taksonomi burung itu.

Prof Soma menerima penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atas kepakaran dan kepeloporannya dalam pengembangan ornitologi di Indonesia. Selain pernah menjabat sebagai direktur Museum Zoologicum Bogoriense, Prof. Soma juga pernah menjabat sebagai dekan Fakultas Matematika dan IPA, Universitas Indonesia, Jakarta.


Sepuluh Besar

Kepala LIPI Prof. Lukman Hakim mengatakan masyarakat Indonesia perlu bangga karena Museum Zoologicum Bogoriense termasuk dalam jajaran sepuluh besar museum ilmu pengetahuan dunia.

"Museum Zoologicum Bogoriense merupakan salah satu museum terlengkap. Banyak ahli dan peneliti asing dari berbagai negara yang datang untuk melihat koleksi di sana," katanya.

Lukman mengatakan Indonesia merupakan salah satu pusat "mega-biodiversity" yang memiliki keberagaman hayati terbesar di dunia. Menurut dia, Indonesia menempati urutan ketiga dalam hal keanekaragaman hayati di dunia.

Selain Museum Zoologicum Bogoriense, LIPI juga memiliki beberapa museum lain seperti Herbarium Bogoriense dengan koleksi keanekaragaman flora dan Indonesian Culture Collection Center dengan koleksi berbagai macam mikroba. 
Sumber: antaranews.com

No comments

Powered by Blogger.